Monday, July 5, 2010

Apa itu CMMI?

Di milis Asosiasi Pengembang Perangkat Lunak Indonesia (APPLI) ramai dibahas mengenai standarisasi dalam pengembangan perangkat lunak. Salah satu standar yang populer digunakan adalah CMMI (Capability Maturity Model Integration) yang dikembangkan oleh Carnegie-Mellon University, untuk lebih tepatnya dalam departemen Software Engineering Institute. Selain itu, ada juga blog ini dan ini yang membahas tentang CMMI.

Dengan adanya standar, organisasi dapat berkembang dengan lebih terarah. Semua anggota organisasi mulai dari programmer, analis, tester, manajer, dan direktur menjadi tahu apa ruang lingkup pekerjaannya. Apa yang harus disediakan bagi pihak lain, dan juga apa yang bisa diharapkan dari departemen lain. Dengan demikian, tidak banyak effort yang terbuang karena miskomunikasi atau kurang koordinasi.

Sayangnya, dunia enterpreneur IT di Indonesia masih jarang yang hirau terhadap masalah standarisasi ini. Berbagai alasan dikemukakan, antara lain:

  • Tidak mengerti bahasa Inggris
  • Standar luar negeri tidak cocok untuk kondisi lokal
  • Standar membuat organisasi monoton dan membosankan
  • dan segudang alasan lainnya


Menurut saya, segala alasan itu cuma pembenaran saja untuk sifat malas belajar. Sebagai praktisi IT, tentunya kita sadar bahwa dunia tempat kita hidup sekarang (internet) dibangun di atas standar. Untuk bisa browsing, kita menggunakan protokol HTTP. Memeriksa email, menggunakan protokol POP3, IMAP, dan SMTP. Chatting, menggunakan protokol IRC, XMPP. Voice chat, menggunakan protokol SIP.

Protokol adalah nama lain dari standar. So, standar membuat hidup kita menjadi lebih baik. Setidaknya, standar apapun lebih baik daripada tanpa standar. Melalui artikel ini, mudah-mudahan para praktisi tergerak untuk setidaknya mempelajari dulu standar sebelum mengeluarkan vonis “tidak perlu” atau “tidak sesuai”.

Sekarang, mari kita lihat standarisasi dalam pengembangan perangkat lunak. Standar yang populer dan cukup saya kuasai adalah CMMI, jadi mari kita bahas tentang CMMI. Kebetulan saya pernah ikutan mengantarkan BaliCamp meraih CMMI Maturity Level 3.

Apa itu CMMI

CMMI adalah singkatan dari Capability Maturity Model Integration. Ini adalah kerangka kerja (framework) yang bisa digunakan untuk mengembangkan proses di dalam perusahaan.

Apa itu proses? Proses adalah cara kita melakukan suatu tugas. Misalnya, membuat proposal, menganalisa kebutuhan client, membuat kode program, dan kegiatan lainnya. Semua tata laksana kegiatan tersebut dikenal dengan nama proses atau prosedur.

CMMI membantu kita untuk memperbaiki proses di perusahaan/organisasi kita. Dengan membaiknya proses, diharapkan produk yang dihasilkan akan ikut menjadi baik.

CMMI dirumuskan oleh Software Engineering Institute di Carnegie Mellon University. Para peneliti di SEI telah mengamati proyek pembangunan perangkat lunak di seluruh dunia, mulai dari proyek kecil sampai proyek raksasa. Organisasi yang diteliti meliputi NASA, IBM, dan kontraktor Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Pengalaman yang dimiliki organisasi tersebut dirangkum dalam seperangkat aturan yang disebut CMMI. Nah, apakah perusahaan kita sudah lebih canggih daripada organisasi di atas, dalam hal mengelola proyek software? Kalau belum, mari kita belajar dari mereka.

Apa sih isinya CMMI ??

CMMI terdiri dari rangkaian practices. Dalam rangkaian practices ini ada rambu-rambu atau rekomendasi yang dapat diikuti. Practices dalam CMMI dibagi menjadi dua, yaitu Generic Practices (GP) dan Specific Practices (SP).

Bila kita sudah mengimplementasikan practices dengan sempurna, kita dianggap sudah memenuhi Goals. Sama seperti practices, ada Generic Goals (GG) dan Specific Goals (SG).

SG dan SP dikelompokkan menjadi Process Area (PA). Total ada 22 Process Area dalam CMMI for Development versi 1.2.

Daftar PA, GG, SG, GP, dan SP dapat dilihat di spesifikasi CMMI yang bisa didonlod gratis di sini.

Apa hubungannya CMMI dengan standarisasi ISO

CMMI dan ISO sama-sama standar yang digunakan untuk menilai proses suatu organisasi. Kalau kita programmer Java, kita punya sertifikasi SCJP, SCWD, SCBCD, dan sebagainya. Nah, anggap saja CMMI atau ISO ini adalah sertifikasinya perusahaan.

Kalau di SCJP yang dinilai adalah penguasaan kita terhadap bahasa pemrograman Java, maka di ISO/CMMI yang dinilai adalah penguasaan perusahaan terhadap prosesnya sendiri.

Perbedaan CMMI dan ISO terletak pada ketelitiannya. Bila kita ingin perusahaan kita mendapat sertifikasi ISO, perusahaan kita harus memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang tertulis. Kemudian kita harus membuktikan pada badan sertifikasi bahwa SOP tersebut kita jalankan dengan baik. Apa saja yang kita tulis dalam SOP bebas terserah kita. ISO tidak mengatur sampai ke tingkat itu.

Berbeda dengan CMMI, selain kita punya SOP, dia punya aturan khusus tentang isi SOP. Misalnya, kalau kita melakukan analisa kebutuhan (requirement gathering), ada beberapa aturan yang harus diikuti, misalnya:

  • Pernyataan kebutuhan user harus dicatat
  • Pernyataan kebutuhan harus dikonfirmasi ke user
  • Pernyataan kebutuhan harus disetujui kedua pihak
  • Kalau ada perubahan, harus dicatat
  • Antara kebutuhan dan software yang dideliver, harus bisa dilacak bolak-balik

Singkatnya, kalau kita lulus ISO, belum tentu lulus CMMI. Sebaliknya, kalau kita lulus CMMI, besar kemungkinan kita akan langsung lulus ISO bila ikut sertifikasinya.

Apa yang dimaksud Maturity Level ??

Tujuan awal dirumuskannya CMMI sebenarnya adalah untuk mendukung proses tender di lingkungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US-DoD). Mereka ingin memiliki sistem penilaian terhadap semua vendor yang mengajukan proposal. Untuk itu dirumuskanlah sistem penilaian vendor berupa Maturity Level (ML).

Maturity Level di CMMI ada 5, mulai dari yang terendah ML 1, sampai yang paling canggih ML 5. Bila perusahaan kita sudah ML-5, maka kita bisa ikut dalam tender proyek software rudal Patriot. Begitu kira-kira.

Setiap ML memiliki seperangkat PA yang harus dipenuhi agar kita berhak menggunakan titel ML tersebut. Sebagai contoh, bila kita ingin lulus ML-2, maka kita harus mengimplementasikan 7 PA. Untuk mencapai ML-3, kita harus mengimplementasikan 7 PA dari ML-2 ditambah dengan 11 PA dari ML-3. Demikian seterusnya, sehingga ML-5 yang sudah mengimplementasikan 22 PA.

Bila kita sama sekali belum mengimplementasikan apa-apa, perusahaan kita dikategorikan sebagai ML-1. Level ini diadakan sebagai hiburan bagi perusahaan yang sudah ikut SCAMPI Class A, tapi tidak lulus bahkan di ML-2. Well, ML-1 kedengarannya lebih baik daripada No-ML atau ML-0 :p

Daftar lengkap PA per ML bisa dilihat di spesifikasi CMMI.

Perusahaan saya ingin mendapat ML-5, bagaimana caranya?

Pertama, tentunya perusahaan kita harus memenuhi semua persyaratan mulai dari ML-2 sampai ML-5. Perusahaan kita harus sudah punya SOP yang mengatur semua proses sesuai aturan CMMI. Bila ada aturan yang tidak kita pahami, kita bisa datangkan konsultan untuk menjelaskan.

Setelah ada SOP tersebut, setiap orang dalam perusahaan harus memahami dan menjalankannya dengan benar. Setelah kita yakin bahwa perusahaan kita mampu, kita mendatangkan appraiser atau auditor untuk memeriksa proses kita.

Kegiatan appraisal ini disebut dengan SCAMPI. Ada macam-macam SCAMPI, tapi yang berhak mengeluarkan peringkat ML hanyalah SCAMPI Class A.

Dalam SCAMPI, Lead Appraiser(LA) akan merekrut beberapa orang dari perusahaan kita untuk membantunya mengaudit. Tim auditor ini disebut Appraisal Team Member (ATM). Perusahaan kita juga juga harus menyediakan tim yang akan diwawancarai oleh ATM, yang disebut dengan Functional Area Representative (FAR).

FAR merupakan perwakilan dari berbagai departemen dalam organisasi. Mungkin nantinya akan ada kelompok FAR dari procurement, tim project, network administrator, programmer, tester, dan lainnya.

ATM dibutuhkan untuk menterjemahkan aturan CMMI ke dalam SOP perusahaan. Misalnya, dalam CMMI ada aturan mengenai analisa kebutuhan, yaitu process area Requirement Management (REQM) dan Requirement Development (RD). Process area ini di perusahaan A mungkin diimplementasikan dengan dokumen Software Requirement Specification (SRS), tapi di perusahaan B mungkin namanya User Requirement Specification (URS), dan di perusahaan C berupa Use Case Diagram dan User Stories. Nah, tugas ATM adalah menjembatani antara istilah CMMI dan istilah internal perusahaan.

Wawancara ATM tidak aneh-aneh. Untuk setiap proses area, mereka akan tanya apakah FAR sudah mengimplementasikan. Bila sudah, mana buktinya. Bukti ini bisa berupa hard-copy, bisa juga soft-copy. Kita bisa mengajukan email sebagai evidence. Bahkan kita juga bisa menunjukkan log Subversion atau item bug dalam aplikasi bug tracker.

Dalam sintaks Java 5, proses appraisal dalam SCAMPI Class A bisa digambarkan sebagai berikut.

int level = 1;

appraisal:
for(int i=1; i<=5; i++) {
List allProcessAreas = maturityLevel[i].getProcessAreas();
for(ProcessArea pa : allProcessAreas) {
for(GenericPractice gp : allGenericPractices) {
if(!far.isImplement(pa, gp) { break appraisal; }
}

for(SpecificPractice sp : pa.getSpecificPractices()) {
if(!far.isImplement(sp)) { break appraisal; }
}

level++;
}
}

Berdasarkan hasil wawancara FAR oleh ATM, LA akan memutuskan ML berapa yang pantas untuk perusahaan kita.

Semua hasil SCAMPI Class A akan dilaporkan pada SEI dan akan dipublikasikan di internet. Sebagai contoh, kita bisa melihat hasil appraisal BaliCamp pada tahun 2006.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada appraiser lokal. Jadi kita harus mendatangkan appraiser dari luar negeri.

Informasi lebih rinci mengenai SCAMPI dapat dilihat di spesifikasi resminya. Di sana ada penjelasan rinci tentang apa saja syarat menjadi ATM, bagaimana proses interview dilakukan, dan bagaimana cara memutuskan apakah suatu evidence sudah memenuhi syarat atau belum.

Apa yang dimaksud Continuous Representation?

Perusahaan mengadopsi CMMI untuk berbagai tujuan. Ada yang bermotif marketing, yaitu meraih ML tertentu dengan harapan akan mendapat project dari US-DoD, ataupun simply memperkeren Company Profile. Sama saja dengan kita ambil SCJP.

Ada juga yang memang berniat meningkatkan kualitas prosesnya. Mengadopsi CMMI dengan harapan perusahaan akan menjadi lebih baik.

Kita kesampingkan dulu motif marketing. Mari kita lihat motif peningkatan kualitas. Ada beberapa pendekatan untuk mengadopsi CMMI. Kita bisa mengadopsi per ML, misalnya tahun ini ML-3, berikutnya ML-4, dan seterusnya. Atau bisa juga kita hanya memfokuskan perbaikan pada satu process area tertentu saja, misalnya Requirement Management, atau Risk Management.

Bila kita berorientasi ML, maka kita mengambil pendekatan Staged Representation. Sedangkan bila kita berorientasi PA, maka kita mengambil pendekatan Continuous Representation.

Bila perusahaan saya sudah ML-5, apakah perusahaan akan menjadi monoton dan membosankan? Apakah karyawannya akan menjadi seperti robot belaka??

Bagi programmer seperti saya dan Anda, kreativitas dan improvisasi adalah kenikmatan kerja yang utama. Itulah yang membuat kita memilih profesi software developer. Oleh karena itu, wajar bila kita mengkhawatirkan masalah ini.

Well, saya sudah pernah mengantarkan BaliCamp meraih ML-3, dan ikut terlibat dalam persiapan mencapai ML-5. Jadi, yang akan saya ceritakan ini adalah pengalaman nyata, bukan FUD (Fear, Uncertainty, Doubt).

Sebagai programmer yang terlibat dalam project, hal yang paling menyebalkan bagi kita bukanlah kesulitan teknis atau kerumitan algoritma. Semakin sulit, semakin menantang bagi kita. Hal yang paling menyebalkan adalah perubahan requirement di tengah jalan. Fitur yang kita implementasi dengan susah payah, bertampilan Web 2.0, menggunakan teknologi AJAX, tiba-tiba divonis client, “Ini bukan yang saya mau, GANTI !!!”.

Atau mungkin tidak se-ekstrim itu. End-user hanya minta geser tombol sedikit, tambah fitur sedikit, dan sedikit-sedikit lainnya, yang lama-lama tentunya akan menjadi bukit. Tiba-tiba, project sudah telat 2 bulan, dan fitur baru 50% terimplementasi. Bukan karena kita codingnya lama, tapi karena user minta perubahan melulu.

Nah, urusan perubahan requirement ini wajib hukumnya untuk dikelola dengan baik. Diatur dalam process area Requirement Management (REQM) yang ada di ML-2 dalam SP 1.3. Kalau perusahaan kita mengimplementasi REQM dengan baik, kita sebagai programmer akan lebih tenang hidupnya. Semua perubahan terhadap aplikasi yang sedang dibuat harus melalui rangkaian prosedur untuk memastikan perubahan tersebut benar-benar diinginkan dan sudah dipertimbangkan konsekuensinya. End-user tidak akan semena-mena meminta perubahan, tapi harus melalui persetujuan atasannya dan atasan kita. Dengan demikian, perubahan yang sampai pada programmer sudah pasti adalah perubahan yang penting, bukan hanya menurut end-user, tapi juga menurut sponsor project. Bahkan, adanya prosedur ini saja sudah cukup untuk membatasi liarnya imajinasi end-user.

Ini hanya satu contoh saja bagaimana implementasi CMMI memudahkan hidup kita sebagai programmer. Silahkan baca-baca spesifikasinya untuk mengetahui aturan-aturan lainnya. Secara umum, CMMI sama sekali tidak menyinggung tentang teknologi, IDE, tools, bahasa pemrograman yang digunakan. Bahkan kegiatan coding sendiri cuma dibahas dalam 2 PA dari 22 yang ada, yaitu Technical Solution dan Product Integration.

Technical Solution mengharuskan kita untuk mengidentifikasi alternatif pendekatan yang tersedia. Kemudian dari alternatif tersebut, kita pilih yang paling baik, berdasarkan kriteria yang kita tentukan sendiri. Jadi tidak boleh langsung coding, melainkan harus mikir dulu.

ML-4 dan ML-5 banyak menitikberatkan pada analisa kuantitatif dan continuous improvement. Sukakah anda terlibat dalam project yang selesai tepat waktu, tidak lembur, libur pada hari Sabtu-Minggu? Nah, kalau sudah ML-5, project seperti ini bukan lagi impian, tapi sudah menjadi hal yang biasa. Delay dalam project sudah bisa diketahui sejak dini. Dari mulai telat 1 hari, project manager sudah bisa tahu dan mengambil tindakan antisipasi seperti minta pengunduran jadwal, mengurangi requirement, dan sebagainya.

Sebagai programmer, tidak banyak perubahan yang kita rasakan selain project menjadi lebih tenang dan teratur. Yang paling besar terkena dampak implementasi CMMI adalah Project Manager. Tiba-tiba saja dia akan diharuskan membuat banyak dokumen dan menyediakan data. Pekerjaan administratifnya akan menjadi jauh lebih banyak.

Tentunya hal ini bisa diatasi dengan otomasi proses. Begitu prosesnya sudah rapi, kegiatan administrasi bisa di-online-kan. Masalah versioning dokumen bisa diatasi dengan Subversion. Daftar resiko project, task management, bug report, bisa diotomasi dengan Bug/Issue Tracker. Lagipula, bila perusahaan kita bergerak di bidang IT, tentunya persenjataan seperti itu sudah seharusnya menjadi lifestyle kita.

Demikianlah penjelasan singkat tentang CMMI. Lain waktu kita akan bahas satu persatu Process Area yang ada.

Semoga bermanfaat.


sumber


Tuesday, June 29, 2010

Tuning Performance

Setelah aplikasi dicoding dengan benar, biasanya langkah berikutnya adalah tuning performance. Hal ini banyak ditanyakan di berbagai milis pemrograman yang saya ikuti. Agar tidak berkali-kali menulis jawaban yang sama, berikut artikel tentang metodologi saya dalam melakukan tuning performance aplikasi.

1. Miliki tujuan yang jelas

Misalnya :
Mampu menghandle 100 request/detik dengan response time < 2 detik
dengan 1 juta record di database. Bisa jadi pada tahap ini, ternyata keputusannya adalah tidak perlu tuning, karena performance aplikasi yang sekarang sudah memenuhi keinginan.

2. Pastikan aplikasinya berjalan benar

Make it right, then make it fast.
Gak ada gunanya mentuning aplikasi buggy.
Kita juga harus punya perangkat pengetes yang lengkap.
Supaya nanti setelah tuning, bisa dipastikan bahwa tuningnya tidak menimbulkan bug baru.

3. Pasang monitor di aplikasi

Misalnya :
- CPU usage
- Memory usage
- Aktifitas harddisk
- Aktifitas database

Di linux, CPU dan Memory usage bisa dipantau dengan top,
sedangkan aktifitas harddisk dengan iostat.
Di MySQL, aktifitas database bisa dimonitor dengan perintah show processlist.

4. Setelah monitor siap, penyiksaan dimulai

Berikan load yang tinggi ke aplikasi dengan menggunakan tools penyiksaan seperti misalnya JMeter.
Tingkatkan terus loadnya sampai response time tidak lagi memenuhi syarat.
Misalnya, pada 30 request/detik, response time menjadi 10 detik.

5. Cari bottlenecknya

Amati monitor, aspek mana yang overload.
Apakah CPU, I/O, atau memori.
Perhatikan juga aktifitas database untuk mencari penyebabnya.

6. Lakukan tuning

Silahkan dioprek dengan metode trial and error.
Biasanya pada tahap ini saya mencari kolom mana yang perlu diindex,
bagian mana di source code yang perlu diperbaiki,
atau konfigurasi seperti apa yang optimal.

7. Test lagi

Setelah dioprek, jalankan lagi tools penyiksaan.
Kalau langkah no #5 benar, biasanya bottlenecknya akan pindah.
Misalnya, tadinya CPU maxed out 100%, setelah tuning jadi santai 10%,
tapi memory usage jadi 80%.

8. Ulangi langkah #5 dan #6

Ulangi terus tuning dan test sampai aplikasi memenuhi tujuan yang diset di langkah #0.
Inilah pentingnya langkah #0, supaya kita tahu kapan harus berhenti.

Beberapa hal yang harus diingat dalam tuning performance:

  1. Tidak ada pil ajaib, masing-masing kasus berbeda. Kadang masalahnya ada di index database, kadang di prosesor, dsb.
  2. Jangan main tebak-tebakan, semua keputusan harus berdasarkan hasil monitoring. Soalnya seringkali tebakan kita salah.
  3. Jangan lupakan maintenance source code. Proses tuning mungkin saja akan membuat source code menjadi kompleks dan sulit dibaca. Jangan sampai kita mengorbankan kerapian coding demi sedikit peningkatan performance. Lebih baik upgrade hardware daripada mengotori source code.
  4. Tahu kapan harus berhenti. Tuning merupakan pekerjaan yang menarik, mirip seperti bermain game. Oleh karena itu penting bagi kita untuk punya tujuan. Begitu tujuan dicapai, segera berhenti. Lebih baik menambah fitur yang memiliki business value daripada terus menerus berkutat dengan performance.

Demikian sekilas tentang tuning. Semoga bermanfaat.

sumber : blog Endy


Sunday, June 20, 2010

Blogger vs WordPress


Ini sesuatu pertanyaan yang klasik: platform blog mana yang paling bagus untuk digunakan? Biasanya di Indonesia pertanyaan ini akan mengerucut menjadi dua yang paling populer: Blogger (atau blogspot) dan WordPress.org. Tentunya layanan lain juga banyak, seperti TypePad sampai yang menggunakan CMS seperti Joomla. Tapi WP mungkin paling populer, terutama WordPress.org sebagai CMS. WordPress.com juga populer untuk blogger yang gak ingin pusing. Nah, kalau teman-teman memilih apa? Saya memilih Blogger :)

WordPress.org

Saya sudah coba WordPress.org. Dan menurut saya memusingkan. Kita harus rajin mengupgrade CMS-nya untuk menghindari masalah security. Mengupgrade plugins untuk menjamin kompatibilitas. Belum lagi membackup database dan file-file di sana. Namun memang, lebih fleksibel. Ini adalah primadona bagi blogger-blogger yang cukup serius menekuni blognya.
Bagi yang belum tau bedanya dengan WordPress.com… WordPress.org adalah platform yang bisa anda install di hosting anda. Anda bisa melakukan banyak hal di sini, seperti membuat theme sendiri sampai menambah plugins agar CMS anda lebih powerful.
Tapi kalau rasanya hanya ingin menulis content, rasanya WordPress.org terlalu merepotkan.

WordPress.com

Nah jangan ketuker sama WordPress.org. WordPress.com menggunakan CMS WordPress juga. Tapi dihosting oleh WordPress sendiri. Sepertinya menyenangkan ya. Salah satu CMS blog terbaik, dihosting gratis pula. Tapi sayangnya batasannya banyak sekali. Kita tidak bisa memilih theme selain yang disediakan. Tidak bisa menginstall plugins. Dan berbagai batasan lain.
Nah kabar paling buruk buat yang berangan-angan untuk menguangkan blognya (bahasa kerennya: monetize), WordPress.com tidak mengijinkannya. Kapasitasnya juga tidak terlalu besar. Kecuali memang ngeblog untuk iseng-iseng, WordPress.com jelas bukan pilihan.

Blogger

Layanan blog dari Google ini menurut saya terbilang cukup sakti. Tidak secanggih WordPress.org mungkin. Tapi menurut saya jauh di atas WordPress.com. Meski mungkin punya satu kelemahan: tidak bisa membuat static pages. Dan mungkin hanya satu blogging client yang mensupport upload image ke Picassa: Live Writer.
Blogger masih mengijinkan kita mengedit themesnya. Menambahkan widget juga terbilang sangat mudah. Yang pasti dukungan space dari Google terbilang sangat besar: tidak ada limit. Hanya limit 1GB untuk image yang di host di Picasa, layanan dari Google juga. Seandainya 1GB masih kurang, masih bisa diupgrade dengan biaya yang sangat murah: US$ 5 pertahun. Bayangkan kalau kita hosting sendiri dengan WordPress.org!

Kesimpulan

Ujung-ujungnya pilihan tentu ada di teman-teman semua. Mau pakai platform yang mana. Tapi ada baiknya dicoba dulu semua, supaya dapat feelnya. Jangan memilih hanya karena teman-teman anda pakai CMS tertentu.
Pada akhirnya blog adalah soal content. Buat apa pusing-pusing ngurusin masalah teknis kalau bisa menghindari itu? Jangan-jangan banyak waktu dihabiskan hanya untuk mengoprek CMS dan plugins. Atau mengkontak support hosting.
Saya tidak terlalu ambil pusing dengan dashboard dan web interface untuk menulis. Karena selama ini saya pakai Live Writer untuk menulis secara offline.

sumber

Saturday, May 29, 2010

Dokumentasi Project

Pertanyaan yang sering muncul dalam pengelolaan proyek software adalah, “Dokumen apa saja yang harus dibuat?”

Tidak ada jawaban absolut untuk pertanyaan ini, semuanya tergantung situasi dan kondisi. Bahkan di satu perusahaan yang sama, kelengkapan dokumen projectnya bisa saja berbeda antar project.

Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana menentukan dokumen yang digunakan dalam project.

Disclaimer : Semua yang dijelaskan pada artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman dan kebutuhan internal ArtiVisi. Kebutuhan Anda belum tentu sama dengan kami.


Pertama, kita harus tahu dulu latar belakang kenapa dokumen project dibutuhkan. Setidaknya ada beberapa kegunaan dokumen project, yaitu

* sebagai media komunikasi di internal tim, dengan client, dengan manajemen, dan pihak lain yang berkepentingan (stakeholder)
* sebagai catatan historis jalannya project
* sebagai alat bantu untuk melihat kondisi terkini project (project visibility)
* sebagai kontrak legal bila terjadi perselisihan

Setelah kita mengetahui apa saja kegunaan dokumen, mari kita teliti satu persatu berdasarkan fase dalam project.
Fase Sales

Biasanya pada saat ada tawaran project, kita akan membuat proposal yang relatif tebal (> 10 halaman). Kami di ArtiVisi saat ini sudah hampir tidak pernah membuat proposal project, karena beberapa alasan berikut :

* semakin tebal dokumen, semakin tidak dibaca
* membuang effort percuma untuk membuat dan maintenance

Fungsi proposal sebenarnya adalah panduan awal untuk membuat agreement. Poin-poin yang ada di proposal akan dipindahkan ke agreement yang selanjutnya akan ditandatangani kedua belah pihak.

Kami menyederhanakan proposal menjadi quotation biasa, yang berisi informasi sbb :

* scope pekerjaan
* out of scope
* estimasi durasi
* requirement khusus (misalnya performance requirement, integrasi dengan aplikasi lain, dsb)
* nilai project
* termin pembayaran

Ada beberapa informasi yang biasa ada di proposal dan tidak ada di quotation, yaitu

* teknologi yang digunakan. Biasanya client kami menurut saja apa solusi yang kita rekomendasikan. Kalaupun ada requirement khusus, akan ditulis di bagian requirement khusus di quotation
* skema layer, tier, database diagram, dsb. Biasanya, implementasi internal aplikasi tidak perlu dipikirkan client. Client cukup menentukan what to be built, dan kami yang memikirkan how to build. Kalau client ingin ikut cawe-cawe urusan internal, biasanya kita tawarkan outsourcing programmer saja, bukan project software.

Selanjutnya, setelah quotation dinegosiasikan dan disetujui, tiba saatnya membuat agreement, atau perjanjian kerja sama. Ada beberapa poin yang dicantumkan dalam agreement, yaitu :

* scope pekerjaan
* out of scope
* estimasi durasi
* klausul keterlambatan delivery
* termin pembayaran
* klausul keterlambatan pembayaran
* prosedur change management

Dari beberapa poin di atas, poin klausul keterlambatan delivery harus mendapat perhatian khusus. Keterlambatan delivery bisa terjadi karena banyak sekali sebab. Tidak semua diantaranya adalah kesalahan tim project. Oleh karena itu, kalau ada klausul seperti ini di agreement, tim project harus mengeluarkan effort ekstra untuk melakukan project tracking. Dengan demikian, bila terjadi keterlambatan, ada data yang lengkap mengenai riwayat dan penyebab keterlambatan tersebut.

Selesai bagian agreement, mari kita masuk ke tahap berikutnya.
Project Planning

Tujuan dari dilakukannya dokumentasi pada fase ini adalah untuk mengkomunikasikan bagaimana project akan berjalan, baik ke internal tim maupun ke client. Berikut informasi yang ada dalam project plan :

* Milestone dan Delivery : list urutan delivery yang akan disampaikan, isi dari masing-masing delivery, dan estimasi tanggalnya
* Daftar Task untuk Milestone berikut. Kita tidak melakukan breakdown untuk milestone lainnya, karena masih banyak ketidakpastiannya. Breakdown task hanya dilakukan untuk milestone yang ada di depan mata. Begitu suatu milestone akan selesai, baru dilakukan breakdown task untuk milestone selanjutnya.
* Daftar Resiko Project : ini adalah hal-hal yang berpotensi menghambat jalannya project, seperti misalnya ada PIC client yang akan resign, teknologi yang belum familiar, dsb

Kami tidak membuat Gantt chart. Sebabnya karena Gantt chart sangat menekankan pada dependensi antar task. Sedangkan di project software, dependensi sangat mudah berubah. Misalnya, kita definisikan Modul B dikerjakan setelah Modul A. Ternyata karena PIC client di modul A sedang ada training di luar kota, diputuskan bahwa Modul B akan dikerjakan duluan. Atau, tadinya direncanakan skema database akan dikerjakan sebelum desain UI. Tapi ternyata karena satu dan lain hal, terpaksa UI dikerjakan duluan.

Hal-hal seperti ini cukup sering terjadi dalam project. Sehingga penggunaan Gantt chart justru akan merepotkan kita dalam mengupdate project plan. Kita tahu, semakin sulit dokumen diubah, semakin malas kita mengubahnya, dan akhirnya dokumen tersebut menjadi tidak up to date.
Project Tracking

Project tracking adalah kegiatan untuk memantau jalannya project. Dalam kegiatan ini, project manager melihat kemajuan project, mengidentifikasi masalah yang terjadi, dan mencarikan solusinya. Kalau masalah yang terjadi berada di luar kemampuan PM, dia akan melakukan eskalasi, yaitu meminta bantuan ke atasannya.

Di ArtiVisi, kita cuma menggunakan satu dokumen untuk melakukan project tracking, yaitu progress report mingguan, yang berisi informasi sbb:

* Daftar task yang dikerjakan minggu ini dan statusnya, apakah sudah selesai, sedang dikerjakan, atau belum dimulai
* Daftar task yang akan dikerjakan minggu depan
* Daftar deliverable yang akan diberikan minggu depan
* Resiko project saat ini. Daftar ini dibuat pada saat planning, terus menerus dipantau setiap minggu, dan dilaporkan statusnya
* Masalah yang terjadi dalam project dan action plan yang dilakukan
* Perubahan terhadap estimasi awal

Dokumen ini dibuat oleh PM setelah berkonsultasi dengan pasukannya, kemudian dikirim ke manajemen internal dan client. Dengan tidak adanya Gantt chart, kita tidak perlu mengeluarkan effort ekstra untuk mengupdate Gantt chart.
Fase Requirement

Pada fase ini, tim project menganalisa kebutuhan user sebagai patokan di fase coding. ArtiVisi cuma membuat satu dokumen pada fase ini, yaitu User Story. Dokumen user story berisi informasi sbb:

* User Goal : tujuan yang ingin dicapai client dalam menggunakan fitur ini
* Ijin Akses : security level untuk menjalankan fitur ini
* Penjelasan : deskripsi naratif tentang fitur ini
* Flow aplikasi : langkah-langkah untuk menjalankan fitur ini
* Desain screen : screenshot prototype atau scan paper prototype
* Rincian field : penjelasan masing-masing komponen dalam desain screen
* Prasyarat : hal-hal yang harus terjadi/ada sebelum fitur ini bisa dijalankan
* Kondisi awal : kondisi aplikasi (data, screen, dsb) sebelum fitur dijalankan
* Kondisi akhir : kondisi aplikasi setelah fitur selesai dijalankan
* Karakteristik khusus : kebutuhan khusus seperti response time, usability, dsb
* Flow pengetesan : bagaimana cara mengetes fitur ini
* Sign Off : persetujuan user bahwa deskripsi dalam fitur ini sudah sesuai keinginan

Nantinya akan ada banyak dokumen User Story sesuai jumlah fitur dalam aplikasi. Setelah User Story ditandatangani, semua perubahan harus melalui change procedure, yaitu dengan mengisi change request form. Berikut informasi yang ada di dalam change request form :

* Penjelasan Perubahan : deskripsi dari apa saja yang ingin diubah
* Alasan Perubahan : mengapa perubahan ini diajukan
* Benefit : keuntungan bila perubahan diimplementasikan
* Dampak : akibat terhadap durasi, effort, dokumen, source code bila perubahan jadi diimplementasikan
* Estimasi : estimasi effort, durasi, cost untuk menjalankan perubahan ini
* Approval : persetujuan manajemen baik kedua belah pihak terhadap perubahan ini

Fase Desain

Di fase desain biasanya kami mendesain beberapa hal berikut:

* skema database
* interkoneksi antar modul
* protokol komunikasi
* format data

Walaupun prosesnya dilakukan, tapi tidak ada dokumen permanen yang dihasilkan. Skema database misalnya. Desain dibuat di papan tulis, dan langsung ditulis dalam bentuk source code (SQL atau Hibernate mapping). Bila suatu saat diperlukan diagram, akan digenerate dengan tools dari database development. Protokol komunikasi dan format data akan dibuat di dokumen user story sebagai requirement internal.
Fase Coding

Pada fase ini, kita menghasilkan source code dan user manual.
Fase UAT

Pada fase ini, kita membuat dua dokumen, yaitu hasil pengetesan sesuai skenario di User Story dan Berita Acara UAT. Biasanya (tapi tidak selalu), berita acara dan hasil pengetesan digunakan sebagai lampiran penagihan.
Fase Implementasi

Pada fase ini, cuma satu dokumen yang dihasilkan, yaitu Berita Acara Serah Terima Aplikasi. Dokumen ini dibuat dan ditandatangani setelah kegiatan implementasi selesai dilakukan. Beberapa kegiatan dalam fase ini antara lain :

* Instalasi Aplikasi
* Training User
* Deployment Aplikasi
* Paralel Run

Demikian dokumentasi project yang kita buat selama project. Tidak terlalu banyak kan? Berikut daftarnya

1. Quotation
2. Agreement
3. Project Plan
4. Progress Report
5. User Story
6. Requirement Sign Off
7. Change Request Form (kalau perlu)
8. User Manual
9. Berita Acara UAT
10. Berita Acara Serah Terima Aplikasi

Kesimpulannya, buatlah dokumen sesuai kebutuhan, bukan sesuai hype yang sedang trend saat ini dan bukan juga sesuai warisan leluhur.

Sumber : Blog Endy

Fase Requirement

Dari seluruh fase yang ada di project, fase Requirement Development adalah yang paling penting. Bila kita melakukan kegiatan requirement dengan asal-asalan, akibatnya antara lain :

  • aplikasi sudah selesai dibuat, tapi tidak sesuai dengan keinginan user
  • pada fase coding, banyak terjadi delay karena ternyata ada requirement yang belum jelas
  • pada fase coding, banyak pekerjaan harus diulang karena salah memahami requirement

Kenapa saya sebut dengan istilah Requirement Development, bukan Requirement Gathering seperti yang umum dipakai orang? Sebabnya adalah karena requirement yang baik itu tidak didapat dengan mudah. Tidak seperti memungut barang di jalanan (gathering), melainkan harus melalui proses yang iteratif (development). Kita tidak bisa mendapatkan requirement yang baik sekali jalan. Kita harus terus menerus melakukan investigasi, klarifikasi, verifikasi, agar requirement yang didapat benar-benar bagus kualitasnya.

Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana cara membuat requirement yang baik.

Sebelum ke masalah teknis, kita lihat dulu, kenapa kita harus melalui fase requirement? Kenapa tidak langsung coding saja? Kan customer ingin aplikasi jadi, bukan notulensi meeting dan setumpuk dokumen?

Tujuan Requirement

Kita melakukan requirement development karena kita ingin tahu apa yang ingin dibuat. Setelah mengetahui apa yang ingin dibuat, barulah kita bisa:

  • memilih anggota tim yang tepat
  • memperkirakan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya
  • memilih arsitektur dan teknologi yang sesuai

Jadi, proses requirement membantu kita untuk melakukan project planning.
Selain itu, proses requirement juga membantu kita mencegah project menjadi molor dan merugi. Kalau kita langsung terjun coding, maka akan banyak waktu terbuang untuk melakukan perubahan. Misalnya, kalau kita sudah coding, ternyata user minta tambahan satu field entry, maka kita terpaksa mengubah tampilan, skema database, format report, dokumentasi user (kalau sudah ada), dan mungkin banyak lagi. Tapi kalau perubahan ini dilakukan pada fase requirement, paling effortnya cuma mengubah dummy dan dokumentasi user story saja.

Requirement juga bisa membantu kita mengendalikan perubahan dalam project, seperti kita akan lihat di bagian selanjutnya.

Setelah kita tahu tujuannya, mari kita ke langkah pertama yang paling menentukan.

Identifikasi Usernya

Segera setelah project dimulai, kita akan segera dihujani jadwal meeting untuk membahas requirement. Nah di sini kita harus jeli. Mendengarkan user itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah menjawab pertanyaan, siapa usernya?

Ada bermacam-macam jenis user, dan ini menentukan informasi apa yang ingin kita dengarkan, dan informasi mana yang kita abaikan.

  • End User. Ini adalah user yang nantinya akan menggunakan aplikasi. Kita harus mendengarkan user ini, terutama dari sisi usability. Apakah aplikasi kita nyaman dipakai, mudah digunakan, indah dilihat, dan sebagainya. Tapi, jangan sekali-kali mengambil keputusan tentang proses bisnis dengan user ini. Jangan juga memutuskan untuk menambah/mengurangi fitur hanya berdasarkan pendapat user ini. Kita membutuhkan user selanjutnya, yaitu :
  • Sponsor atau Client. Ini adalah orang yang akan membayar invoice untuk pembuatan aplikasi. Semua keputusan penting (proses bisnis dan list fitur adalah penting) harus disetujui Client. Dan jangan salah, seringkali pendapat End User tidak sama dengan pendapat Client. Misalnya, Client menginginkan suatu transaksi harus melalui approval supervisor, manager, dan direktur secara berjenjang. Tapi tentunya fitur ini akan memberatkan End User, karena ada banyak proses yang harus dilalui. Nah, tentunya Anda tahu siapa yang harus kita dengarkan. Nah, jadi kapan-kapan melakukan requirement development, cari tahu dulu siapa yang mengotorisasi bilyet giro :D
  • Konsultan Internal. Seringkali di organisasi client, ada seseorang yang cukup senior dari sisi teknis. Bisa jadi dia adalah divisi IT di organisasi client, atau orang luar yang dipercaya oleh client. Apakah orang ini harus kita dengarkan pendapatnya? Tergantung dari seberapa besar pengaruhnya terhadap client. Kita bisa mengetes pengaruhnya dengan membuat satu fitur yang tidak sesuai dengan pendapat konsultan internal ini, dan lihat apa reaksi client. Kalau client setuju dengan kita, berarti pengaruhnya tidak besar, dan pendapat selanjutnya bisa kita diabaikan.
  • Customer. Ada kalanya Client membeli aplikasi kita untuk dijual lagi ke orang lain. Nah orang lain ini disebut Customer. Sukses atau tidaknya project kita banyak ditentukan oleh berapa customer yang bisa didapatkan client. Jadi, penting juga untuk kita mengetahui profil customer (kalau ada). Apa business objective dari customer, sehingga bisa kita akomodasi dengan baik

Baiklah, saya sudah memetakan, si A adalah End User, si B Client, si C konsultan internal, dan si D adalah customernya. Apakah sekarang sudah bisa kita mulai interviewnya? Ok ok .. mari kita suruh Business Analyst (BA) untuk melakukan tugasnya. Oh, tunggu dulu, BA belum direkrut? Bagaimana kualifikasinya?

Kualifikasi Business Analyst

Pertama, BA harus menguasai proses bisnis. Kalau kita ingin membuat aplikasi akunting, BAnya harus mengerti akuntansi. Aturan sederhana dan logis, tapi masih banyak saja perusahaan yang mengirim programmer untuk melakukan requirement development.

Secara umum, BA harus sudah punya pengetahuan dasar dulu sebelum dia ketemu client. Kalau kita kirim programmer, maka dia bukan melakukan requirement development, tapi dia akan belajar bisnis proses ke client. Seperti kita akan lihat, ini pasti akan menimbulkan delay, karena :

Seorang BA harus bisa membedakan mana proses bisnis yang fundamental dan jarang berubah (karenanya boleh dihardcode), mana yang kondisional dan sering berubah (sehingga harus configurable)

Programmer yang belajar bisnis proses ke client tidak akan bisa membedakan ini. Sebagai contoh, mari kita lihat prosedur procurement.

Proses bisnis fundamentalnya adalah, ada pengajuan (purchase request), kemudian dilanjutkan dengan minta quotation ke vendor (request for quotation), memilih vendor, baru melakukan pemesanan (purchase order).
Ini adalah flow fundamental, dan boleh di-hardcode.

Kemudian end user akan bilang, purchase request akan dilakukan oleh masing-masing dept, approval dilakukan manager, dst, dst. Siapa yang mengentri, siapa yang mengapprove, dan pada nilai transaksi berapa dia boleh approve, ini adalah kondisional dan harus bisa dikonfigurasi.

Nah, seorang BA yang baik harus bisa membedakan kedua hal ini.

Coba temani BA anda pada saat sesi interview dengan end user. Kalau dia pernah bilang begini,

Oh, di perusahaan Anda prosesnya begini ya? Biasanya yang umum dilakukan orang adalah seperti ini. Proses Anda kurang optimal karena blablabla. Apakah proses Anda mau berubah, atau aplikasi yang ingin ikut proses Anda dengan konsekuensi ABC?

Nah, kapan-kapan dia minta naik gaji, jangan buru-buru ditolak. Ini BA bagus. Dia menguasai bidangnya, dan tahu best practices.

Banyak perusahaan yang ingin bikin produk dari project tapi tidak kunjung berhasil. Misalnya, ada client minta dibuatkan aplikasi gudang, trus manajemen mikir, “Wah kayaknya ini kalo dibikin jadi produk bakalan prospek”. Tapi ternyata setelah project selesai, aplikasinya tidak applicable di perusahaan lain. Ini salah satu sebabnya adalah BA yang kurang pengalaman sehingga tidak tahu mana fitur yang generik berlaku umum dan mana yang spesifik hanya untuk perusahaan tertentu saja.

Tahu bisnis proses saja masih kurang, BA yang baik juga paham usability. Seperti kita tahu, ada banyak cara untuk mengentri transaksi. Bisa dientri via screen, bisa upload file, bisa via HP, bisa import dari aplikasi lain, dsb. BA yang baik bisa memberikan rekomendasi pada programmer mengenai user experience. Bagaimana urutan screen, penempatan komponen, apakah pilihan tertentu disajikan dengan dropdown, radio, atau lookup.

Kalau BAnya tidak paham usability, aplikasi kita akan benar secara proses bisnis, tapi tidak enak digunakan. Programmer tidak bisa menentukan usability, karena dia tidak tahu bagaimana biasanya end-user menggunakan fitur tertentu.

Ok, BA saya sudah canggih, paham bisnis proses, tau best practices, dan pernah magang sama Jakob Nielsen. Bisa kita mulai interview user?

Interview User

Pada fase ini, biarkan saja BA menjalankan tugasnya. Dia akan berbicara dengan user, dan menanyakan hal-hal berikut:

  • Flow global dari awal sampai akhir. Untuk aplikasi procurement, berarti dari request pembelian, sampai barang diterima.
  • Flow detail untuk masing-masing tahap. Contohnya, bagaimana detail flow proses request pembelian
  • Variasi skenario. Di sini BA akan mengidentifikasi percabangan dari tiap flow. Apa saja variasi skenarionya, perbedaan datanya, role user yang mengaksesnya, kondisi outputnya, dan sebagainya.

Jangan lupa untuk meminta :

  • Contoh report yang diinginkan
  • Sampel data transaksi untuk kita test di internal
  • Rumus atau formula perhitungan

Tergantung clientnya, ada kemungkinan dia akan meminta perjanjian kerahasiaan sebelum mengeluarkan data-data di atas.

Setelah interview, BA pulang ke kantor, dan akan membuat dokumentasi requirement.

Dokumentasi Requirement

Untuk apa kita membuat dokumentasi? Tujuannya adalah

  • Untuk mengidentifikasi kalau ada hal yang kurang jelas, sehingga bisa langsung ditanyakan
  • Sebagai bahan untuk verifikasi dengan user, apakah pemahaman kita sudah sama dengan yang dimaksud user.
  • Sebagai pedoman untuk programmer
  • Untuk mencegah project molor

Lho, bagaimana bisa dokumen requirement mencegah project molor? Ya bisa saja, berikut alasannya

  • Kalau ada kesalahan dan ditemukan pada fase ini, biaya perbaikannya jauh lebih kecil daripada kalau ditemukan pada fase coding. Misalnya ada kesalahan rumus perhitungan. Kalau kesalahan ini ditemukan pada fase requirement, paling biayanya cuma mengedit user story. Tapi kalau ditemukan pada waktu UAT, bisa-bisa butuh 2-3 hari untuk fixingnya. Ini katanya Steve McConnell, bukan bikin-bikinan saya.
  • Setelah requirement disign off, semua perubahan harus melalui change procedure. Ini mencegah project molor karena user terus menerus berubah pikiran. Sekarang maunya A, besok B, lusa ganti lagi.

Lalu, apa saja yang harus didokumentasikan? Daripada panjang lebar, silahkan lihat template User Story ArtiVisi. Di situ sudah kita siapkan form isian apa saja yang harus dicantumkan.

Coba lihat dulu, supaya nyambung dengan pembahasan di bawah.

Lho kenapa ada flow pengetesan? Apa bedanya dengan test scenario?

Sama saja, yang kita maksud flow pengetesan memang adalah test scenario. Lalu apakah wajib dibuat pada fase requirement? Kami sangat menganjurkan untuk membuatnya, dengan alasan sebagai berikut:

  • Dengan memikirkan bagaimana nanti pengetesannya, kualitas user story akan meningkat. BA terpaksa memikirkan step-by-step bagaimana aplikasi akan digunakan, apa inputnya, dan apa outputnya. Dengan memikirkan ini, semua variasi dan kebutuhan input, dan ekspektasi output mau tidak mau akan terpikirkan dan teridentifikasi sejak dini. Ini akan mengurangi requirement yang ambigu, tidak lengkap, atau tidak mungkin diimplementasikan
  • Test scenario yang ditandatangani user merupakan exit strategy bagi vendor. Kalau client sudah setuju dengan skenario testnya, maka vendor cukup membuat aplikasi yang lulus test tersebut. Setelah lulus test, jangan ditambah-tambahi lagi. Ini akan mencegah programmer menambah fitur-fitur menarik namun tidak memiliki business value.

Seperti bisa dilihat pada template, kita mengharuskan adanya screen prototype di dokumen requirement. Screen ini dirancang oleh BA (makanya dia harus paham usability), dan kalau mau, bisa dibuatkan dummy-nya. Dummy bisa dibuat dengan apapun teknologi yang murah dan cepat. Begitu desain screen jadi, seharusnya tidak lebih dari 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk membuat dummy-nya, bahkan untuk screen kompleks sekalipun.

Yang harus ada di desain screen adalah :

  • Input field, harus jelas komponennya, apakah text, radio, dsb
  • Contoh isian. Jangan membuat input kosong, buatlah seolah-olah sudah diisi user. Ini akan memudahkan pada saat presentasi
  • Contoh output. Demikian juga dengan output hasil query, report, dsb. Jangan tampilkan tabel kosong. Isilah dengan data statis barang beberapa baris, agar user mempunyai gambaran bagaimana hasil akhirnya

Tidak perlu repot-repot mengimplementasikan dummy ini. Semuanya adalah data statis yang langsung diketik apa adanya.

Dokumen user story dan dummy dipresentasikan ke end user dan direvisi sesuai input. Pada fase ini, end user bebas membuat perubahan apapun yang diinginkan. Perubahan bebas untuk diakomodasi, asal jangan pernah melupakan siapa yang tandatangan otorisasi bilyet giro :D

Sign Off

Setelah semua user story diiterasi dengan end user sampai puas, maka tiba saatnya untuk melakukan feature-freeze. Semua dokumentasi requirement diupdate sehingga sesuai kondisi terakhir, lalu minta approval tertulis dari client. Ingatlah selalu, approval client, bukan end-user, bukan konsultan internal. Ini adalah aktivitas paling critical dan harus dilakukan. Segala usaha proses requirement akan percuma tanpa sign off client.

Change Management

Sebelum sign off, end user bebas mengajukan perubahan apapun. Setelah sign off, semua perubahan harus melalui change procedure. Intinya adalah, perubahan diajukan secara tertulis, diestimasi penambahan durasi dan costnya, lalu diajukan ke manajemen, baik vendor maupun client. Kalau salah satu pihak tidak setuju, maka perubahan tidak akan dijalankan.



Prosedur Change Management

Lebih jelas tentang informasi apa saja yang dibahas di change management, bisa melihat template change request ArtiVisi.

Seperti kita lihat, di sini faktor sign off sangat berperan. Tanpa ada sign off, tidak ada batas kapan user bisa berubah seenaknya, dan kapan tidak boleh.

Kalau change management dijalankan dengan baik, project akan lebih terkontrol. Walaupun ada kemunduran, kedua belah pihak sadar apa sebabnya. Semua perubahan diketahui manajemen, sehingga tidak ada bos yang tiba-tiba muncul dan bilang

Ini project kenapa gak beres-beres?

Kunci sukses change management adalah mulai dari awal, dan perhatikan hal kecil. Kita sebagai vendor sering mengabaikan prosedur ini dengan berbagai alasan, diantaranya

  • Ah perubahannya terlalu kecil, kalo langsung diimplement cuma 5 menit, tapi kalo change procedure bisa 2 hari.
  • Kita tidak mau terlihat birokratis seperti pegawai kelurahan perpanjang KTP
  • Kita berbaik hati pada client, masa perubahan sedikit saja hitung-hitungan banget

Ini merupakan kesalahan besar. Dengan memberlakukan change procedure bahkan untuk hal kecil, kita akan menimbulkan kesadaran di client bahwa kita mengelola project dengan ketat. Dengan demikian, mereka tidak sembarangan meminta perubahan. Client juga akan menyadari bahwa perubahan kecil saja akan berdampak pada keseluruhan project.

Kalau kita memang ingin berbaik hati pada client, silahkan digratiskan. Tapi prosedur tetap dijalankan. Jadi kalo tiba-tiba ada bos client yang tanya seperti di atas, tinggal kita sodori binder berisi daftar change request yang sudah diapprove.

Change procedure juga ada bonusnya, yaitu tidak banyak mengganggu programmer. Estimasi dan approval mostly dilakukan oleh business analyst dan project manager. Dan belum tentu juga client setuju. Kita akan menghemat banyak waktu, konsentrasi, dan pikiran programmer yang tidak perlu memikirkan usulan perubahan yang ternyata tidak disetujui.

Di change request juga ada timing kapan change akan diberlakukan. Untuk menjaga konsentrasi dan ritme tim, PM bisa menggunakan opsi ini untuk menunda change ke iterasi selanjutnya.

Requirement Traceability

Yang satu ini titipan dari CMMI. Di process area Requirement Management, CMMI mengharuskan adanya bidirectional traceability. Artinya, setiap hal di requirement harus bisa ditelusuri dokumen desain mana yang membahasnya, baris kode mana yang mengimplementasikannya, test scenario mana yang memverifikasinya. Demikian juga sebaliknya (makanya disebut bidirectional), setiap baris kode, harus bisa ditelusuri requirement mana yang membutuhkannya.

Ini ide yang bagus. Dengan melaksanakan ini, kita memastikan bahwa effort coding kita benar-benar efisien. Tidak ada effort terbuang percuma untuk fitur-fitur yang tidak perlu. Demikian juga sebaliknya, kita memastikan bahwa semua requirement sudah diimplementasikan dan tidak ada yang ketinggalan.

Walaupun demikian, ide bagus belum tentu realistis di lapangan. Saat ini di ArtiVisi, kita baru bisa merelasikan antara baris kode dengan requirement dengan menggunakan Trac. Tapi tidak untuk dokumen lainnya seperti user manual, test scenario, dsb. Dan itupun tidak bidirectional.

Kalau ingin tahu bagaimana ini diimplementasikan, silahkan lihat aplikasi ini.

Oh iya, kalau kita sudah melakukan semua anjuran di artikel ini, lengkap dengan Requirement Traceability, kita sudah siap untuk diaudit untuk proses area Requirement Management (Maturity Level 2) dan Requirement Development (Maturity Level 3) :D

Demikian penjelasan tentang fase requirement. Semoga bermanfaat.

Sumber : Blog Endy