Friday, November 26, 2010

Aini dan Sakit Maagnya

berikut adalah cerita menarik yang aku dapat dari blog Aini mengenai sakit maagnya.

Cerita dari awal, deh. Aku memang sudah terkena maag sejak SMP. Parah, ya? Umumnya orang baru sakit maag waktu kuliahan, tapi aku sejak SMP. Yah, waktu itu sakitnya masih standar, paling perut perih, atau kembung, atau mencret, atau muntah. Mungkin karena pola makanku yang buruk juga. Waktu kelas 6 SD, guruku sering mengadakan pemantapan untuk menghadapi EBTANAS. Nah, akibatnya aku sering terlambat makan siang. Pola hidupku sebenarnya teratur. Sarapan jam 6, makan siang jam 12, makan malam jam 6. Pola hidup sehat banget, lah. Tapi pola itu kacau gara-gara pemantapan itu. Soalnya sering kali pemantapan diadakan dadakan. Jadi bisa aja tiba-tiba guruku bilang, “nanti kita pemantapan, ya.” Nah, kalau sudah begini aku jadi nggak makan siang, deh. Nggak bawa bekal, soalnya. Atau jajan dan beli mie. Biasanya mie itu kami remes-remes sampai hancur lalu dimakan kering-kering dengan bumbunya. Enak.

Saat duduk di SMP pola makanku juga makin kacau. Sarapan tetap pagi jam setengah enam karena sekolahku jauh di Taruna Bakti. Nah, makan siang biasanya telat. Paling cepat jam setengah tiga sore karena aku baru pulang sekolah jam setengah dua. Makan malam jam 6 atau jam 7 malam gitu. Mungkin karena pola makan waktu SMP yang buruk begitu, akhirnya saat SMA sakit maag-ku semakin parah. Pola makan waktu SMA rasanya nggak separah SMP, tapi tetap saja telat makan siang karena aku pulang dari sekolah jam satu dan sampai rumah jam dua. Kadang-kadang siang juga nggak makan nasi.

Aku pernah sakit maag sampai demam dan pusing. Mulanya disangka tifus (karena demam tadi). Setelah konsultasi via telepon ke tanteku yang dokter dan punya sakit maag juga, ternyata itu bukan tifus tapi maag. Aneh banget karena aku nggak mencret, nggak kembung, perutku juga nggak perih, bahkan nggak muntah. Pokoknya tanda-tanda maag yang sudah kukenal tidak ada yang muncul. Yang aku rasakan hanya demam, pusing, tak nafsu makan, dan ulu hatiku terasa dingin. Tanteku menyuruh aku menekan ulu hatiku. Sakit. “Nah, itu tanda sakit maag,” begitu katanya. Akhirnya tanteku memberikan resep:

  1. Makan makanan yang lunak seperti bubur.
  2. Makan marie setiap jam.
  3. Minum obat maag lima belas menit sebelum makan besar, di antara dua waktu makan, dan sebelum tidur.
  4. Jangan makan vitamin C (vitamin C = asam askorbat. Asam!!)
  5. Jangan makan jeruk, jambu biji, mangga, nangka, pisang ambon.
  6. Jangan makan makanan yang berbumbu merangsang seperti cabe, sambel, merica, asam.
  7. Jangan minum kopi, jangan minum soda, jangan minum teh. Kalau mau minum teh, hanya boleh yang encer.

Setelah menuruti resepnya, sakit maag-ku pun reda. Bisa makan lagi dengan bebas.

Waktu kuliah S1 rasanya jam makanku sudah membaik, tapi mungkin masih belum teratur banget. Apalagi aku kuliah jurusan Biologi yang setiap harinya sibuk dengan kuliah dan praktikum. Maag-ku semakin parah. Sering hilang timbul gitu. Kadang sakit sampai perih, tapi nanti sembuh. Yah, pokoknya begitu maag aku langsung menerapkan resep dari tanteku itu. Bekal marie ke mana-mana.

Tapi tahun lalu (akhir 2007 sampai 2008 ) maag-ku kumat dan nggak sembuh-sembuh. Akhir 2007 atau awal 2008 sakit maag-ku kumat. Perutku perih dan kembung. Aku menerapkan resep yang diajarkan tanteku itu. Tetap saja kembung dan perih. Kayanya obat maag yang kupunya sudah tak mempan lagi. Lalu temanku, Celine, mengajarkan resep jamu untuk orang maag. Resepnya seperti ini : Pagi hari saat perut masih kosong, sebelum sarapan, kunyah kunyit sejempol dengan bawang putih. Aku coba. Toh gimana juga kunyit dan bawang putih itu antibiotik alami. Tapi aku nggak mau ngunyah. Baru mikir mau ngunyah kunyit sejempol dan bawang putih rasanya sudah iyaa~akh banget. Akhirnya kunyit dan bawang putih itu diparut lalu diambil airnya. Mentah-mentah diminum. Aku langsung muntah. Nggak kuat sama baunya. Akhirnya aku bikin jamu kunyit saja. Kunyit bubuk dilarutkan dengan air panas, dikasi madu atau gula supaya manis, airnya diminum. Tetap nggak sembuh. Memang minumnya juga baru beberapa hari. Akhirnya aku tak tahan juga. Aku pergi ke dokter minta resep obat maag selain yang biasa aku minum. Setelah menghabiskan obat itu, maag-ku tetap tak kunjung sembuh. Duh! Parah banget, nih!

Akhirnya aku memutuskan untuk akupunktur karena teringat temanku yang maag dan diakupunktur lalu sembuh. Aku diakupunktur oleh dokter yang kebetulan teman kami berdua waktu S2 di Biologi. Dia dokter (asli dokter!) yang juga mempelajari ilmu akupunktur. Jarang-jarang ada, deh. Biasanya kan dokter nggak mau belajar ilmu kedokteran timur seperti akupunktur (karena berbeda dengan ilmu kedokteran barat). Ahli akupunktur juga biasanya nggak belajar ilmu kedokteran barat.

Oleh dokter itu aku dikasi tau tentang maag. Jangan dipandang enteng karena maag dapat menyebabkan kematian jika diremehkan. Maag-ku ini sudah aku anggap parah karena berbulan-bulan tak sembuh juga. Tapi ternyata masih ada lagi sakit maag yang lebih parah. Salah satunya seperti yang dialami oleh pasien dokterku ini. Saking parahnya sampai harus makan segala macam obat yang harganya mahal-mahal. Mulai dari pelapis lambung, enzim untuk membantu pencernaan, dan entah apalagi. Aku tak terbayang, deh. Satu butirnya harganya saja sudah aduhai. Untung si pasien itu punya pekerjaan yang bayarannya mantap jadi dia nggak terlalu masalah dengan harga obat yang ia makan. Tapi tetap saja, kan? Rugi duit. Mana obat itu harus dikonsumsi tiga kali sehari dan tak hanya satu macam. Euh…tak terbayang, deh kalau aku yang mengalami itu. Bikin kanker alias kantong kering.

Selain itu, maag juga bisa bikin lambung bolong. Nah, kalau udah kaya gini artinya udah parah banget dan bisa bikin orang meninggal. Jadi inget pembantuku dulu. Ibuku yang cerita karena dia yang ingat. Si pembantu ini sering mual dan muntah-muntah. Katanya sih sakit maag. Tapi walaupun ibuku sudah sering menyuruhnya ke dokter dan mengingatkan dia supaya nggak makan sambel, dia bandel. Tetep rajin makan sambel. Yang super pedas pula. Emang doyanannya, sih. Waktu itu aku masih kecil, paling baru berapa tahun gitu. Yang aku ingat dengan jelas adalah waktu tiba-tiba ada banyak laki-laki datang ke rumah dan masuk ke kamar pembantuku itu. Sudah itu mereka keluar sambil menandu pembantuku ini ke rumah sakit. Pembantuku ini sudah muntah-muntah darah gitu. Aku ingat seprainya yang ternoda darah. Akhirnya dia meninggal dunia karena maag. Makanya jangan anggap enteng sakit maag. Nyawa taruhannya! Ini termasuk penyakit yang killing you slowly.

Selain menusuk jarum, dokterku ini juga memberikan wejangan-wejangan. Yah, untuk sembuh pasien dan dokter harus bekerja sama. Walaupun dokter sudah kita beri kepercayaan untuk membantu menyembuhkan kita, pasien kan tetap bertanggung jawab pada dirinya sendiri (selama dia masih bisa bertanggung jawab pada dirinya tentunya). Maka itu pasien harus mematuhi rambu-rambu yang diberikan dokter. Dokterku memberikan rambu-rambu sakit maag yang harus aku taati. Ini dia:

  1. Makan NASI tiga kali sehari, dengan jam dan porsi yang teratur. Dokter menyarankan untuk sarapan jam 7, makan siang jam 1, dan makan malam jam 5. Tapi aku biasa sarapan jam 6, makan siang jam 12, dan makan malam jam 6 jadi jam inilah yang aku pakai. Jumlah teratur maksudnya porsinya tetap, cukup kenyang, nggak kurang dan nggak berlebihan sampai kekenyangan. Boleh sarapan dengan Havermouth. Nggak boleh nasi goreng karena berminyak dan berbumbu (lihat nomor 7 dan 8). Sarapan dengan roti jelas tak diperbolehkan (lihat nomor 5 dan 6).
  2. Makanan harus dikunyah dengan baik. 32 kali. Tujuannya supaya makanan yang masuk ke lambung sudah cukup halus. Kalau makan cuma dikunyah sekali dua kali dan langsung telan, kan makanan yang masuk ke lambung masih kasar-kasar terus nanti kena ke luka di lambung. Sakit! (Bayangkan sariawanlah. Sakit kalau tersenggol, kan?). Ini kebiasaan paling berat. Waktu membiasakan diri mengunyah 32 kali, selain waktu makanku jadi lama, rahangku juga pegal-pegal. Tak terbiasa, sih. Soalnya biasanya aku makan dengan cepat (ngunyahnya nggak benar). Ini juga resep untuk yang diet. Tujuannya supaya kita sempat merasakan rasa kenyang. Kalau makan cepat-cepat kan rasa kenyang itu baru terasa kalau makanan yang masuk sudah terlalu banyak atau lima menit setelah berhenti makan.
  3. Minum harus sopan santun. Maksudnya jangan ditenggak habis satu gelas. Gleg-gleg-gleg gitu. Minum seteguk, diem, minum seteguk lagi, diem. Ini supaya lambung nggak melar. Resep ini terutama ditekankan untuk yang ingin melangsingkan badan (sering denger kalau dokter sedang memberi wejangan pada pasien yang menurunkan berat badan).
  4. Tak perlu makan marie tiap jam. Agak aneh memang. Ternyata alasannya adalah begini. Aku kan sedang mengembalikan fungsi tubuh agar normal kembali. Inti akupunktur kan mengembalikan fungsi-fungsi organ tubuh agar normal kembali. Saat perawatan itu aku kan sedang mengajarkan dan membiasakan tubuhku agar normal kembali dan hanya memproduksi asam lambung tiga kali sehari (saat makan besar). Nah, kalau aku membiasakan untuk makan marie tiap jam, nanti lambungku akan terbiasa untuk memproduksi asam lambung terus-terusan. Nanti lambungku ketergantungan makanan. Kalau nggak dikasi makan tiap jam, nanti bisa sakit maag lagi karena dinding lambung terkikis dan luka lagi.
  5. Nggak boleh makan makanan yang dibuat dari tepung seperti roti, mie, dan lain-lain. Psst! Sebenarnya tepung inilah turut andil dalam menggemukkan tubuh. Pasien yang diakupunktur untuk melangsingkan badan juga dilarang makan tepung-tepungan oleh dokterku ini. Pasien lain yang nggak melangsingkan badan juga dilarang makan tepung-tepungan dan akibatnya berat badannya langsung turun.
  6. Nggak boleh makan makanan yang beragi dan mengembang jika dimasak, seperti kue bolu, cake, roti, mie.
  7. Kurangi lemak. Terutama nggak boleh makan gorengan. Why? Karena lemak sulit dicerna. Kasian, kan lambung yang sudah luka-luka disuruh kerja keras.
  8. Jangan makan makanan yang berbumbu merangsang seperti merica, cabai, asam karena bumbu ini merangsang keluarnya asam lambung. Termasuk juga saus tomat (asam). Sambal botol dan mustard juga jelas tak boleh.
  9. Jangan minum kopi maupun teh karena mengandung kafein yang bisa merangsang pengeluaran asam lambung. Kalaupun mau minum teh harus yang super encer. Itu juga baru boleh minum kalau sakit maag-nya sudah mendingan.
  10. Jangan minum soda. Jelas banget. Selain bikin gas di perut, soda juga mengiritasi lambung.
  11. Jangan makan sayur keluarga kubis-kubisan seperti brokoli, kembang kol, daun kol, selada karena keluarga kubis-kubisan ini banyak menghasilkan gas. Jadi tujuannya supaya perut nggak kembung.
  12. Nggak boleh terlalu banyak makan buncis karena buncis juga menghasilkan gas walaupun tidak sebanyak keluarga kubis-kubisan tadi. Begitu pula dengan kacang tanah karena menyebabkan gas juga.
  13. Jangan makan buah-buah yang asam dan mengiritasi seperti jeruk, jambu (terutama jambu batu karena kandungan vitamin C-nya tinggi, ingat vitamin C = asam askorbat. Asam!), tomat (buat atau sayur?), mangga, entah apa lagi. Hiks…. Padahal aku suka banget mangga :(
  14. Jangan makan nangka. Jelas banget. Nangka bikin perut perih dan kembung. Nangka ini agak menipu. Rasanya manis, tapi sebenarnya menyakiti lambung.
  15. Buah yang paling aman untuk dimakan adalah pepaya dan mungkin juga melon (tak tahu pasti karena aku tak suka melon). Kandungan serat pepaya kan bagus, cocok untuk aku yang kurang suka makan sayur. Gara-gara sakit maag ini aku jadi sering makan pepaya padahal aku sebenarnya nggak menggemari pepaya. Habis mau gimana lagi, melon aku nggak suka, buah-buahan yang kusuka seperti mangga nggak boleh. Nah, daripada kekurangan vitamin dan kekurangan serat akhirnya makan pepaya, deh.
  16. Susu dan pisang tidak dilarang. Walaupun begitu, sebenarnya ini tergantung individunya juga. Ada orang yang punya sakit maag tapi bisa minum susu atau makan pisang tapi ada juga orang yang nggak bisa begitu. Aku sih biasanya malah jadi mules kalau minum susu. Aku juga kembung kalau makan pisang ambon. Pisang lain sih katanya aman tapi karena aku nggak mau coba-coba akhirnya semua pisang kujauhi.
  17. Waktu aku tanya apakah boleh minum jamu kunyit itu, ternyata kata dokter tak apa-apa. Memang itu obat maag juga. Jadi buat kamu yang lebih suka minum jamu, silahkan saja. Sudah banyak juga kok yang sembuh dengan minum jamu kunyit itu (menurut cerita dari berbagai orang). Tentunya harus rutin tiap hari, ya. Aku sih kurang telaten bikinnya, nggak terlalu suka pula. Makanya lebih baik akupunktur. Hehehe.

Itu soal makanan, selanjutnya soal pola hidup dan stress. Baru inget setelah ada komentar dari Mas Oscar (diasumsikan sebagai Pria)

  1. Dilarang bergadang. Tidur paling lama jam 11.00 malem. Alasan : Agar badan tidak stress. Stress itu ngaruh banget ke maag. Yang maag pasti taulah. Begitu stress, langsung perut perih. Selain itu, untuk yang diet…kalau kamu bergadang, pastinya kamu bakal laper lagi, kan? Pasti kamu makan lagi, tuh. Nggak turun-turun, dong berat badannya? Terus…begitu tubuh mendapatkan sinyal stress, misalnya karena terlambat tidur, bergadang, kecapaian, lupa makan, dan sebagainya, tubuh dengan otomatis akan menimbun makanan. Nah, lho!
  2. Kurangi stress. Stress fisik (terlalu lelah, terlalu banyak kerja) ataupun stress mental (terlalu banyak pikiran, marah-marah). Dekatkan diri pada Tuhan (rajin ibadah, baca kitab suci), atau pun cara-cara relaksasi lain seperti yoga, memanjakan tubuh (biasa cewe, nih), nyanyi, nonton, apapun. Aku biasanya baca, nonton, atau main game. Tapi kalau stressnya lumayan, bisa juga nyanyi teriak-teriak. Biarin kaya orang gila! Daripada dipendem terus jadi penyakit? Ya, nggak? Asal jangan ngamuk-ngamuk ke semua orang aja, termasuk yang nggak punya masalah ama kita. Itu mah bukan nyembuhin, malah nambahin masalah. Jangan juga ngerokok dan mabuk-mabukan! Itu cuma bikin seneng sesaat, buntutnya panjang. Malah ngerusak badan, soalnya. Jadi tulisan ini jangan dijadikan alasan untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, ya! Ada resep dari Dr. Oz (yang suka liat Oprah pasti tau) : Resep pertama : basahi bibir, terus dimonyongin kaya orang mau bersiul, terus hisap (jadi bukan dihembus). Nah, ntar kan terasa tuh ada hawa dingin di bibir. Itu yang mengirimkan sinyal rileks ke otak. Begitu katanya. Resep satu lagi : Gigit kepalan tangan anda (jangan keras2, yang penting mulut terbuka), atau gigit gabus. Fungsinya untuk merilekskan otot rahang dan mengirim sinyal2 ke otak agar rileks.
  3. Olah raga. Tapi jangan olah raga saat tubuh sudah kelelahan, ya. Kasian :P Ntar malah stress pula. Kecapaian.

Intinya : Sayangi diri Anda! Cintai diri Anda! Perhatikan diri Anda! Jalankan pola hidup sehat!

Ada satu lagi resep untuk sakit maag. Ini resep dari temanku, Alia, mungkin berguna. Makan kuning telur ayam kampung mentah pagi hari saat perut masih kosong. Resep yang ini belum kucoba, sih. Heu…. Mentah, gitu. Jadi aku nggak tau kemanjurannya bagaimana. Tapi yang jelas sakit maag Alia langsung sembuh setelah sepuluh hari mengkonsumsi kuning telur ayam kampung mentah.

Aku menjalani terapi akupunktur selama tiga bulanan. Lumayan lama juga. Dikasi peer pula. Aku diharuskan mencatat apa-apa saja yang kumakan dalam sehari. Setiap habis makan apa, langsung catat. Tiap yang dirasakan perut juga harus dicatat. Kapan aku merasa kembung, kapan merasa mual, kapan merasa perih. Untuk kontrol. Setelah lebih baik, mulailah aku agak-agak bandel. Coba makan pisang goreng tiga biji, perutku agak kembung. Karena ada catatannya dokter bisa bilang, “Wah! Ini pisang gorengnya terlalu banyak! Makanan yang lain bagus, tapi pisang gorengnya itu kebanyakan!” Coba makan es krim, tak apa-apa. Laporan ke dokter, “Dok, aku dah bisa makan es krim dan perutku nggak kenapa-kenapa.” Yah, begitulah. Jadi belajar lagi untuk mendengarkan tubuh sendiri.

Setelah tiga bulan di akupunktur, akhirnya aku bisa dilepas. Nggak perlu akupunktur lagi. Tapi, ya itu. Tetap harus jaga makan. Selalu makan nasi tiga kali sehari. Aku kapok makan mie atau roti sebagai pengganti nasi. Selain itu, karena selama tiga bulan itu aku selalu memperhatikan makanan yang akan kumakan, sampai sekarang kebiasaan itu terus terbawa. Kalau liat menu di rumah makan, otomatis otakku berpikir. Bahannya apa? Berbumbu merangsang atau nggak? Tepung? Gitu, deh. Sudah jadi bagian dari gaya hidup, sih.

Sekarang sih sudah berani nyemil-nyemil biskuit, makan pizza sepotong, tapi tetap nggak berani banyak-banyak. Kapok banget! Sakit maag tuh nggak enak. Banyak makanan enak yang tak bisa kumakan. Oh, minggu lalu akhirnya aku makan burger! Ah, senang! Setelah sekian lama nggak makan burger :) Perutku aman damai saja. Syukurlah.

Efek samping dari makan nasi tiga kali sehari : berat badanku turun empat kilo. Kemaren sudah kegemukan. Setelah akupunktur dan makan nasi tiga kali sehari berat badanku kembali ideal. Hehehe. Yakin karena nasi karena sampai sekarang berat badanku nggak naik lagi. Yah, paling naik sekilo tapi setelah itu turun lagi. Memang dokternya bilang begitu, “Nasi tuh yang paling bagus. Coba aja kamu makan nasi tiga kali sehari, jangan makan tepung-tepungan (mie, roti, kue) tapinya, nanti berat badan kamu bakal ideal dengan sendirinya. Kalau emang kegemukan, nanti bakal turun sendiri lalu berhenti di titik ideal. Tentunya makan nasinya jangan berlebihan, ya! Seporsi biasa kamu aja.”


sumber


No comments: